SPORT & ENTERTAINTMENT
Bola

Legenda di Era Modern

bola

Tidak banyak pesepak bola di industri sepak bola modern yang mampu bertahan lama dalam satu klub sepanjang karirnya, apalagi jika pemain itu berstatus sebagai pemain bintang. Butuh perjuangan dan berbagai macam rintangan untuk tetap loyal kepada satu klub yang dibela. Terlebih lagi, banyaknya godaan uang dari klub-klub yang mengiming-imingi gaji tinggi demi membentuk tim terbaiknya secara instan membuat semakin langkanya kita melihat seorang pemain yang bertahan lama pada satu klub.

Francesco Totti

Totti, simbol abadi AS Roma. Pernyataan yang tentu tidak berlebihan jika mengingat latar belakangnya yang lahir dan besar di kota Roma. Memulai debutnya bersama AS Roma di musim 1992 saat berusia 16 tahun, siapa sangka pecinta sepak bola masih melihat sosok Francesco Totti dengan seragam bola yang sama hingga usianya yang ke-40 sekarang.

Sang Pangeran mendapat debut profesional dengan klub kebanggaan kota kelahirannya pada 23 Maret 1993 di bawah asuhan Vujadin Boskov saat menumbangkan Brescia 2-0. Mulai saat itu, perjalanan abadinya bersama serigala kota Roma dimulai.

Totti tercatat sebagai pencetak gol terbanyak AS Roma di Liga Italia dan Eropa. Ia juga merupakan sosok pemain dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah klub dan merupakan top scorer sepanjang masa Liga Italia yang masih aktif bermain. Puncak karir sang kapten tercipta saat berhasil meraih Scudetto tahun 2000-2001. Sang legenda telah memutuskan jika musim 2016-2017 akan menjadi musim terakhir dari 25 tahun perjalanan El Capitano, Francesco Totti sebagai pemain AS Roma sekaligus juga sebagai pesepak bola.

Gianluigi Buffon

Jika para pecinta bola berbicara tentang sosok kiper terbaik dunia yang hingga saat ini masih bermain, nama Gianluigi Buffon tentu akan menjadi salah satunya. Di usianya yang telah menginjak 40 tahun, Buffon masih menjadi orang yang terpercaya mengawal gawang klub Juventus dan timnas Italia. Walaupun Juventus bukan klub pertamanya, namun pengabdian dari tahun 2001 hingga saat ini menjadikannya sangat pantas disebut sebagai salah satu legenda hidup Juventus.

Memulai bermain bola dengan posisi penyerang, bakat emas Buffon sebagai penjaga gawang terkuak justru karena suatu ketidaksengajaan. Aksi coba-coba pelatihnya saat masih junior di klub Parma yang memainkannya di posisi penjaga gawang menjadi awal perjalanannya menjadi yang terbaik.

Bergabung dengan Juventus dengan status kiper termahal di dunia dijawab dirinya dengan penampilan terbaik di setiap aksinya. Hingga saat ini penjaga gawang yang diberi julukan Superman ini telah menyumbangkan tujuh gelar Scudetto, lima Super Coppa, dan satu Coppa Italia untuk “Si Nyonya Tua”. Dia juga sukses mengantarkan timnas Italia menjadi jawara Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman.

Kesetiaannya terhadap Juventus sempat mendapat ujian pada tahun 2006. Juve yang tersandung kasus Calciopoli terpaksa harus turun kasta ke Liga Italia Serie B. Tetapi tak seperti beberapa pemain bintang lain yang memilih meninggalkan Juve, Buffon tetap setia menjaga tembok terakhir klub kebanggaannya yang terus dapat kita saksikan setiap aksinya hingga saat ini.

John Terry

Memulai karir dengan berlatih sepak bola di akademi West Ham, John Terry kecil yang kala itu masih berusia 14 tahun memutuskan untuk pindah ke Chelsea. Tidak sekedar berganti tim, Ia juga berpindah posisi saat kepindahannya tersebut, dari seorang gelandang menjadi bek tengah. Sebuah keputusan yang ternyata sangat tepat baginya jika melihat apa yang telah berhasil ia capai selama ini.

Terry memulai karir profesionalnya sejak mendapat debut bersama tim senior Chelsea pada 1998. Meski sempat dipinjamkan ke Nottingham Forrest pada tahun 2000, Terry berhasil mengambil kepercayaan tim London Biru lewat rangkaian aksi impresifnya. Hingga kini total 14 trofi mayor telah dirinya sumbangkan untuk Chelsea. Rinciannya ialah 5 kali juara Piala FA, 4 Liga Primer Inggris, 3 Piala Liga, 1 Liga Champions, dan 1 trofi Liga Europa.

Sayangnya usia yang semakin menua sangat berpengaruh bagi kemampuan seorang atlet di lapangan. Rangkaian cidera dan penurunan kemampuan fisik membuat dirinya semakin sulit bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa. Tercatat pada musim ini John Terry baru melakoni sembilan pertandingan di semua kompetisi yang diikuti Chelsea.

Akhirnya keputusan telah dibuat. Sang defender menyatakan jika musim ini akan menjadi akhir dari perjalanan panjang kariernya bersama “Si Biru”. Meski sempat mendapatkan tawaran menggiurkan dari liga China, John Terry juga telah mengonfirmasi jika tidak akan hijrah ke klub lain setelah pensiun. Hal yang semakin menguatkan jika John Terry adalah seorang legenda Chelsea yang sebenarnya.

***

Teks oleh Oppix Borneo

(Disunting oleh Tiara Mahardika)

RELATED NEWS

Top
http://www.pedasmag.com/wp-content/uploads/2016/04/logo-pedas.jpg